30 September 2012

Ayah Dan Ibu Mencintai Aku, Melebihi Cintaku

Ini Jumat untuk kesekian kali, namun rasanya berbeda. Jum'atku sekarang adalah bahagiaku. Bahagia karena aku bisa pulang, menemuhi "mereka" yang menanti kehadiranku. Ayah dan Ibu yang setiap hari cemas menunggu kabarku, menunggu pernyataan (sms) "aku sudah pulang". Entah itu siang ataupun tengah malam. Mereka selalu menanti tanpa letih. Ayah dan Ibu yang tak pernah mengeluh dihadapanku. Mengeluh akan beberapa tindak cerobohku yang membuat mereka kesal bahkan mungkin mereka ingin membunuhku.

Ayaaah , Ibuu , aku sangat mencintaimu . .
ampuni atas segala tindak bodoh yang sudah aku perbuat selama ini. .
aku tau sampai saat ini semua tindakanku tak ada artinya dibanding segala pengorbananmu, kerja keras, air mata, keringat, bahkan doa-doamu

malam kemarin, aku datang bak ratu kerajaan. Dijemput kereta kencana (mobil ayah) kusang berwarna putih namun itu sangat membahagiakan. Membawa beberapa pasukan yang menghibur keadaan. Menyiapkan beberapa selembar kertas merah bernominal 100.000,00 sebagai alat untuk berperang. Berperang melewati malam untuk mencapai kebahagiaan. Bersama mereka, orang-orang yang aku cintai dan mencintai aku.

Diawali dengan kebiasaan bersama, pergi berkaraoke menyanyikan lagu-lagu andalan kami. Kami : Aku, Ayah, Ibu dan adikku. Tawa , ledekan, pelukan, ciuman. hadir dalam setiap detik kebersamaan kami. Aku sangat menikmatinya. Tuhan, izinkan aku menikmatinya lebih lama :')


Berlanjut mencari makan, mengisi kekosongan perut yang tidak dapat lagi tertahan. Ketika itu Ayah sudah makan, Ia rela menahan kekenyangannya hanya untuk menemani aku. Aku yang sangat susah berkompromi dengan makanan. Sekejap ayah mengatakan, Ayah bertaruh apapun untuk dapat meneruti segala pintamu. Pinta seorang mahasiswa semester awal yang entah bisa dikatakan mahasiswa atau tidak. Tuhan, ketika itu dadaku sesak, jantungku berdetak lebih lebih lebih kencang. Inikah ayah yang selalu terlihat tegas dan kasar padaku? Ayah yang tidak segan memukul bahkan membunuhku ??
Aku nikmati momen itu. detik detik ini sangat berarti buatku, mungkin buat ayah juga. Disetiap perjalanan, kita habiskan waktu hanya berdua. bergandengan tangan, dan berbincang ringan (terutama mengenai bangunan, cor, pasir, dan kesipilan). Mungkin jika aku membahasnya dengan orang lain, aku bakal pergi menghindar karena aku tidak nyaman. Tapi jika bersama sosok ayahku, segalanya terasa begitu indah dan nyata.

Aku benar-benar merasa ada yang beda pada sosok ayahku belakangan ini. Sejak aku pergi merantau ke kota orang yang jaraknya hanya berpuluh km dengan surgaku (rumah). Sejak aku menyandang status mahasiswa baru yang selalu dihantui tugas dosen dan tekanan pengkaderan.

Mungkin sekarang waktu yang tepat buat ayah menunjukkan persaanya, perasaan yang selalu ia tutupi dengan kebengisan dan keegoannya.

No comments:

Post a Comment